Senin, 04 Oktober 2010

Create OpenSUSE LiveUSB


OpenSUSE LiveUSB adalah distro Linux OpenSUSE yang dapat dijalankan langsung dari USB Flash Disk. Jika OpenSUSE LiveCD adalah OpenSUSE yang dijalankan langsung dari CD seperti halnya Knoppix, OpenSUSE LiveUSB menggunakan media Flash Disk untuk menjalankannya. Kita hanya perlu mengubah boot device priority pada BIOS atau bisa juga secara langsung pada saat hendak booting (F9, F12 atau F8 tergantung konfigurasi komputer untuk boot device priority).
Berikut adalah beberapa keuntungan menggunakan LiveUSB :
  1. LiveUSB bisa menyimpan data. Berbeda dengan LiveCD yang tidak bisa menyimpan data kedalam medianya (karena CD bersifat Read Only), LiveUSB dapat dijalankan dan dapat menyimpan perubahan dengan leluasa
  2. Cepat dan mudah diakses. LiveUSBjauh lebih cepat dan lebih mudah digunakan karena LiveUSB bertindak sebagaimana harddisk dalam suatu komputer
  3. Tersedia port USB pada setiap komputer. Sebagian besar komputer yang ada sekarang mendukung port USB, bahkan ada komputer yang memiliki port USB > 4. Tersedia juga perpanjangan port USB (extended USB port 1menjadi 4 misalnya) sehingga LiveUSB tidak memerlukan investasi hardware baru seperti halnya menggunakan CD ROM
  4. Tidak semua komputer memiliki CD ROM/DVD ROM. Selain pertimbangan investasi, juga karena kita dapat menggunakan media CD ROM/DVD ROM yang dishare dari komputer lain
  5. Dapat dimodifikasi dan dicustomisasi. Karena dapat menyimpan data, kita dapat mengubah personalisasi dari OpenSUSE LiveUSB secara mudah.
  6. Bersifat Mobile. Jika anda meminjam komputer orang lain atau menggunakan komputer ditempat umum, anda bisa menggunakan komputer tanpa harus khawatir terserang virus dengan menggunakan OpenSUSE LiveUSB sebagai media utama
  7. Harga Flash Disk yang relatif murah. Flash Disk ukuran 1 GB seharga kurang dari 100 ribu sudah dapat dipakai sebagai OpenSUSE LiveUSB, dengan kapasitas sisa sebesar 300 MB (space yang digunakan oleh sistem OpenSUSE LiveUSB sekitar 700 MB, dapat dikurangi / ditambah).
Panduan berikut akan menggunakan cara yang mudah dengan memanfaatkan zypper package manager. Jika anda baru menggunakan OpenSUSE, hanya butuh waktu sebentar untuk beradaptasi dengannya.
  1. Siapkan DVD Instalasi dan LiveCD OpenSUSE
  2. Install openSUSE secara default. Cara termudah adalah menggunakan openSUSE liveCD. Hanya butuh 7 langkah mudah untuk melakukan instalasi menggunakan OpenSUSE LiveCD. Jika ingin opsi yang lebih banyak, silakan gunakan DVD Instalasi OpenSUSE
  3. Copy seluruh isi DVD kedalam suatu folder tertentu, misalnya folder /home/vavai/opensuse-dvd atau /mnt/iso. Contoh disini menggunakan folder /mnt/iso. Gunakan akses root untuk menyimpan ke folder /mnt.
  4. Jika memiliki file ISO, kita dapat menggunakannya juga dengan perintah : mount -o loop lokasi-dan-nama-file-iso nama-folder-yang-dituju misalnya : mount -o loop openSUSE-10.3-GM-DVD-i386.iso /mnt/iso
  5. Tambahkan repository KIWI
  6. Install KIWI dan kawan-kawan :-D
  7. zypper in kiwi kiwi-desc-livesystem kiwi-desc-usbboot
  8. Lakukan perubahan pada file usbboot config.xml yang terletak di folder /usr/share/kiwi/image/usbboot/suse-10.3/ dan ganti baris berikut dengan alamat folder tempat hasil copy isi DVD OpenSUSE (hasil pada no 3 & 4) :
  9. <repository type="yast2" status="replaceable"> <source path="/image/CDs/full-10.3-i386"/> </repository>
    Menjadi seperti ini :
    <repository type="yast2" status="replaceable"> <source path="/mnt/iso"/> </repository>
  10. Lakukan perubahan pada file livecd config.xml yang terletak pada folder /usr/share/kiwi/image/kwliveCD-suse-10.3 dan ganti baris berikut dengan alamat folder tempat hasil copy isi DVD OpenSUSE (hasil pada no 3 & 4) :
  11. <repository type="yast2"> <source path="/mounts/dist/install/SLP/openSUSE-10.3-GM-DVD/i386/DVD1/"/> </repository> <repository type="rpm-md"> <source path="http://download.opensuse.org/repositories/openSUSE:/10.3:/Testing/openSUSE_10.3/"/> </repository> <repository type="rpm-md"> <source path="http://download.opensuse.org/update/10.3/"/> </repository>
    Menjadi :
    <repository type="yast2"> <source path="/mnt/iso/"/> </repository>
    Repo http://download.opensuse.org bisa dihapus karena kita akan menggunakan repo lokal. Jika memiliki akses internet bagus dan hendak sekaligus melakukan update paket, biarkan alamat tersebut
  12. KIWI terbaru memberikan peringatan soal sistem penomoran KIWI (Mestinya memuat version number, major dan minor changes), jadi, ubah baris ini : <version>2.5</version> menjadi misalnya <version>2.5.0</version>
  13. Hapus file .checksum.md5 pada folder /usr/share/kiwi/image/usbboot/suse-10.3/ (File ini merupakan hidden file, jadi gunakan pilihan show hidden files jika membukanya menggunakan file manager seperti konqueror)
  14. Hapus folder temporary kiwi
  15. rm -rf /tmp/kiwi*
  16. Jalankan Kiwi untuk membentuk image folder sistem live (ganti KDE dengan GNOME jika ingin menggunakan GNOME desktop manager)
  17. kiwi --prepare /usr/share/kiwi/image/kwliveCD-suse-10.3 --root /tmp/kiwi-tmp --add-profile KDE --logfile terminal
  18. Kiwi akan melakukan proses beberapa saat tergantung kecepatan komputer dan akan berakhir dengan pesan "KIWI exited successfully done". Jika anda mendapat pesan lain, silakan sesuaikan konfigurasi dengan pesan yang muncul ;-)
  19. Buat image LiveCD yang sudah dikompress. Proses ini akan menghasilkan file image dengan nama openSUSE-10.3.i686-2.5.0 (2.5.0 tergantung versi yang diset pada config.xml) pada folder /tmp/kiwi-image/
  20. mkdir /tmp/kiwi-image kiwi --type usb --create /tmp/kiwi-tmp -d /tmp/kiwi-image --logfile terminal
  21. Tancapkan USB flash disk dan tentukan lokasi dari USB flash disk tersebut pada folder /dev (perintah ls /dev/sd* akan menapilkan USB Flash disk pada akhir nama device. Jika kita punya 1 harddisk dan 1 USB, USB aka dikenali sebagai /dev/sdb. Jika punya 2 harddisk maka USB akan dikenali sebagai /dev/sdc. Perhatikan jumlah partisi pada USB (/dev/sdb1, /dev/sdb2 misalnya)
  22. Umount flash disk dengan perintah umount pada konsole (misalnya : umount /dev/sdc1)
  23. Buat bootable OpenSUSE LiveUSB stick dengan perintah :
  24. kiwi --bootstick /tmp/kiwi-image/initrd-usbboot-suse-10.3.i686-2.1.1.splash.gz --bootstick-system /tmp/kiwi-image/openSUSE-10.3.i686-2.5.0
  25. Restart komputer dan ujicoba OpenSUSE LiveUSB dengan memilih flash disk sebagai pilihan pertama pada boot device priority.
Cara diatas adalah prosedur yang dilakukan untuk membuat OpenSUSE LiveUSB menggunakan OpenSUSE 10.3 sebagai dasarnya, namun keseluruhan proses *semestinya* dapat diaplikasikan pada OpenSUSE 11.0 atau versi terbaru dari OpenSUSE dengan beberapa modifikasi kecil. Jangan lupa untuk mengubah path sesuai dengan versi OpenSUSE yang digunakan.

Tips Menggunakan Telkomsel Flash Unlimited di PCLinuxOS


Artikel ini saya tulis mengunakan PCLinuxOS TinyMe 2008 pada laptop TOSHIBA yang saya fungsikan sebagai Mobile Computing. Pada dasarnya penggunaan dan konfogurasi PCLinuxOS lainnya sama saja dengan PCLinuxOS yang saya gunakan.
* Pastikan ada login sebagai root
* Siapkan 1 Unit komputer yang sudah terinstall PCLinuxOS dengan 1 atau lebih NIC pada komputer tersebut.
* Sambungkan PCLinuxOS kedalam jaringan (LAN) anda baik meggunakan kabel ataupun perangkat wireless. Disini saya menggunakan kabel UTP sebagai jalur komunikasi IP (Internet Protocol) dalam jaringan saya.
* Setelah PCLinuxOS tersambung dan semua komputer bisa berhubungan dengan PCLinuxOS maka langkah selanjutnya adalah membuat sambungan koneksi internet pada PCLinuxOS. Disini saya menggunakan keoneksi internet Dial Up GSM dari Telkomsel Flash (Telkomsel Flash Unlimited ) dengan menggunakan mini USB kabel dan Motorola V3i sebagai modem. Untuk tipe koneksi internet lainnya bisa di sesuaikan dan di konfirmasikan kepada pihak Provider anda.
* Karena saya menggunakan koneksi internet dial up maka saya gunakan Gnome PPP sebagai dialer yang sudah include pada instalasi PCLinuxOS TinyMe2008. Setelah saya pasang modem motorola jalankan Gnome PPP dan masuk ke bagian konfigurasi dengan melakukan klik pada tombol setup.
* Setelah window konfigurasi terbuka klik tombol detect untuk mendeteksi modem secara otomasi. Pastikan modem anda di dukung oleh PCLinuxOS .
* Setelah modem terdeteksi klik pada tombol Init String dan masukan ATCommand pada AT1.... karena saya menggunakan Telkomsel Flash Unlimited string yang saya gunakan adalah sebagai berikut : AT+CGDCONT=1,"IP","internet"
* Setelah itu klik OK untuk keluar dari windows Command.
* Masukan no dial yang di tuju.....karena saya menggunakan Dial up GSM maka dial number yang saya gunakan adalah *99# atau *99***1#
* Setelah itu klik tombol OK untuk keluar dan kembali ke dialer Gnome PPP.
* Isikan Username yang sama dengan APN dan begitu juga dengan Password.
* Isikan dial number *99# atau *99***1#
* Setelah semua selesai coba klik tombol Connect untuk melakukan koneksi.
* Saya anggap semua berjalan lancar. Setelah internet tersambung lakukan setting sharing internet dari PCC (PClinuxOS Control Center)
* Pilih menu Network and Internet dan pilih share internet......
* Konfigurasi dengan Telkomsel Flash Unlimited :
* IP Telkomsel Flash : 192.168.100.101
* Primary DNS Server : 202.3.208.10
* Secondary DNS Server : 202.3.210.10
* Masukan IP Telkomsel Flash di kolom gateway PCLinuxOS dan masukan IP DNS server Telkomsel Flash di kolom DNS Server PCLinuxOS
* Konfigurasikan semu yang di minta oleh PCLinuxOS sesuai dengan jaringan LAN anda....
* Biasanya PCLinuxOS akan meminta anda untuk melakukan istalasi Shorewall, lakukanlah instalasi shorewall secara otomatis, apabila gagal melakukan instalasi secara otomatis lakukan instalasi dengan menggunakan Synaptic.
* Setelah konfigurasi PCLinuxOS selesai, konfigurasikan NIC di komputer - komputer client dengan memasukan IP Gateway PCLinuxOS dan DNS dari Provider.
* Setelah semua konfigurasi berjalan dengan benar tiap - tiap komputer yang terhubung dengan gatewai PCLinuxOS bisa menikmati internet sacara bersamaan dengan komputer lain.

Minggu, 03 Oktober 2010

Pemanfaatan Teknologi Multimedia

Majunya teknologi informasi merupakan suatu perkembangan yang memberikan akses terhadap perubahan kehidupan masyarakat. Dunia informasi menjadi salah satu wilayah yang berkembang pesat dan banyak mempengaruhi peradaban masyarakat. Radio, Televisi, DVD, VCD merupakan salah satu perangkat elektronik yang menjadi bagian dari perabot rumahtangga. Selain berfungsi informatif, media teknologi tersebut merupakan salah satu media entertainment yang memberikan pilihan hiburan menyegarkan.

Akibat kemajuan media teknologi informasi, kehidupan masyarakat memasuki zone rekreatif (hiburan). Tidak dapat dibayangkan, ketika media televisi telah menjadi salah satu media yang menyediakan diri selama 24 jam untuk memberikan hiburan di tengah-tengah keluarga. Setiap sajian acara yang ditayangkan, senantiasa dikemas dalam unsur hiburan. Bukan hanya tayangan sinetron, iklan, bahkan pemberitaan (news) tak lepas dari unsur hiburan. Bagaimana berita kriminal dan mistik menjadi salah satu tayangan di berbagai stasiun televisi yang mampu menghipnotis pemirsa untuk tetap bertahan di hadapan layar televisi.

Hadirnya teknologi media audiovisual, telah menciptakan budaya masyarakat rekreatif dan konsumtif. Masyarakat memiliki banyak pilihan untuk menghibur diri dan membuang kesumpekan hidup yang makin menjepit.

Kondisi perubahan peradaban tersebut, telah pula menjadi pemicu terhadap upaya perubahan sisitem pembelajaran di sekolah. Upaya untuk melepaskan diri dari kungkungan pembelajaran konvensional yang memaksa anak untuk mengikuti pembelajran yang tidak menarik, dan membosankan, sehingga meminjam ungkapan Faulo Fraire, sekolah tak lebih merupakan bangunan tembok penjara yang menghukum penghuninya untuk mengikuti (memaksa) menerima segenap ajaran yang berkubang di dalamnya.

Neil Postman, salah satu filosof dan pakar pendidikan semakin mencemaskan terhadap kehidupan lembaga persekolahan yang semakin teralineasi dari kultur masyrakat yang kian dinamis, sehingga sampai pada taraf asumtif, matinya nilai-nilai pendidikan.

Kondisi sekolah, senantiasa dituntut untuk terus-menerus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat, sehingga sekolah yang tetap berkutat pada instruksional kurikul;um hanya akan membuat peserta didik gagap meliohat realitas yang mengepungnya.

Kehadiran teknologi multimedia, bukan lagi menjadi barang mewah, karena harganya bisa dijangkau oleh segenap lapisan masyarakat untuk memiliki dan menikmatinya. Artinya, sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu untuk memiliki teknologi tersebut sehingga bisa menjadikannya sebagai media pembelajaran yang menarik, interaktif, dan mampu mengembangkan kecakapan personal secara optimal, baik kecakapan, kognitif, afektif, psikomotrik, emosional dan spiritualnya. Hal ini amat memungkinkan, ketika ruang belajar di luar gedung sekolah, telah menghasilkan berbagai produk audiovisual yang bernilai- edukatif, mulai dari mata pelajaran yang yang disajiukan dalam bentuk quiz, ataupun dalam bentuk penceritaan dan berbagai permainan yang memukau.

Salah satu sekolah menengah di Jember (SMAN 2) beberapa waktu lalu, telah mempublikasikan diri sebagai salah satu sekolah yang memakai perangkat multimedia untuk pembelajaran. Setiap guru wajib membuat media pembelajaran dengan teknologi multimedia dan menayangkannya (mempergunakan) dalam pembelajaran. Sungguh sangat menarik, dengan peralatan handycam, dan komputer (PC), seorang guru membuat media pembelajaran audiovisual yang akan memancing minat siswa untuk belajar dan tertarik untuk mengembangkan pengetahuannya. Kondisi yang membuat iri, berbagai sekolah untuk memiliki perangkat pembelajaran semacam itu. Bahkan, sudah waktunya pula apabila sekolah memanfaatkan situs-situs pengetahuan di dunia cyber untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran.

Benarkah pemanfaatan teknologi multimedia akan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik? Bagaimana seharusnya menyiapkan perangkat pembelajaran multimedia sehinggga menjadi tayangan yang menarik, dan efektif dalam pemanfaatannya untuk mengembangkan kemampuan siswa?

Ada sesuatu yang ganjil dalam pemakaian teknologi multimedia yang dipergunakan di SMA 2 Jember dalam pemberiataan jawa pos (maret, 2004), diantaranya pembelajaran agama, dengan menyagankan guru agama yang tengah berceramah. Pembelajaran matematika dengan mempergunakan CD dan hanya berisi berbagai keterangan (tulisan) yang berhubungan dengan pembelajaran. Atau di tempat lain, seorang guru menayangkan pembelajaran mempergunakan VCD yang berdurasi selama 90 menit (2 jam pelajaran) dari awal sampai tayangan berakhir siswa hanya diajak untuk menonton, tanpa ada sesuatu yang bisa mengukur pemahaman siswa terhadap apa yang diatayangkan. Contoh tersebut merupakan salah satu bentuk pemanfaatan media audiovisual yang diarasakan kurang efektif. Karena bila kita menengok pada ceramah agama di berbagai stasiun televisi sudah dikemas sedemikian menghibur dan mampu menarik minat pemirsa untuk saling berinteraksi. Artinya, sebelum media teknologi tersebut dipergunakan, terlebih dahyulku dikenali karakteristik dari tiap media, sehingga bisa dimanfaatkan secara efektif dan efisien

Dr.Vernom A.Magnesen (1983) menyatakan kita belajar, "10% dari apa yang dibaca; 20% dari apa yang didengar, 30% dari apa yang dilihat, 50% dari apa yang dilihat dan dengar, 70% dari apa yang dikatakan, 90% dari apa yang dilakukan"

Berpijak kepada konsep Vernom, bahwa pembelajaran dengan mempergunakan teknologi audiovisual akan meningkatkan kemamp[uan belajarn sebesar 50%, daripada dengan tanpa mempergunakan media. Namun dengan melihat pada realitas yang ditemukan pada proses pembelajaran tersebut, maka pencapaian belajar secara efektif akan dicapai apabila:

(1) Guru mengenal keunggulan dan kelemahan dari setiap media teknologi yang dipergunakan. Penggunaan teknologi auditif bukan berarti lebih buruk daripada media audiovisual, karena ada beberapa materi pembelajaran yang akan lebih baik ditayangkan dengan mempergunakan teknologi auditif untuk merangsang imajinasi siswa, dan melatih kepekaan pendengaran

(2) Menentukan pilihan materi yang akan ditayangkan, apakah sesuai dengan penggunaan media auditif, visual, atau audiovisual. Misalnya untuk melatih kepekaan siswa dalam memahami percakapan bahasa inggris, akan lebih baik kalau dipergunakan media auditif, sementara untuk mengetahui ragam budaya masyarakat berbagai bangsa tentu lebih relevan dengan mempergunakan tayangan audiovisual.

(3) Menyiapkan skenario tayangan, tentu berbeda dengan satuan pelajaran, karena disini menyangkut terhadap model tayangan yang akan disajikan sehingga menjadi menarik, nantinya akan mampu mengembangkan berbagai aspek kemampuan (potensi) dalam diri siswa.. Tidak kalah pentingnya, adalah bagaimana membuat anak tetap fokus kepada tayangan yang disajikan, dan mengukur apa yang telah dilakukan siswa dengan

(4) menyiapkan lembar tugas atau quiz yang harus dikerjakan siswa ketika menyaksikan tayangan pembelajaran

*****

Upaya membuat anak betah belajar disekolah dengan memanfaatkan teknologi multimedia, merupakan kebutuhan, sehingga sekolah tidak lagi menjadi ruangan yang menakutkan dengan berbagai tugas dan ancaman yang justru mengkooptasi kemampuan atau potensi dalam diri siswa. Untuk itu, peran serta masyarakat dan orangtua , komite sekolah merupakan partner yang dapat merencanakan dan memajukan sekolah.

Pemanfaatan teknologi merupakan kebutuhan mutlak dalam dunia pendidikan (persekolahan) sehingga sekolah benar-benar menjadi ruang belajar dan tempat siswa mengembangkan kemampuannya secara optimal, dan nantinya mampu berinteraksi ke tanmgah-tengah masyarakatnya. Lulusan sekolah yang mampu menjadi bagian intergaral peradaban masyarakatnya. Suatu keinginan yang tidak mudah, apabila sekolah-sekolah yang ada tidak tanggap untuk melakukan perubahan. Sejarah persekolahan di indonesia telah mencatat, bahwa upaya-upaya perubahan yang dilakukan pemerintah untuk melakukan pengembangan terhadap kurikulum sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, juiga pengembangan terhadap berbagai metode dan proses pembelajaran yang menarik untuk memancing dan memicu perkembangan kreatif siswa pada akhirnya kermbali kepada titik awal; betapa sulitnya perubahan itu?

Setidaknya dengan akan diberlakukannya kurikulum 2004 (KBK), pembelajaran di sekolah akan menjadi sangat variatif, rekreatif, dan tentu kontekstual. Jika murid tidak mampu bukan sepenuhnya kesalahan murid, tetapi bisa jadi kesalahan kolektif pihak sekolah yang kurang kondusif. Nyatanya, bila melihat dari faktor usia, siswa memiliki peluang besar untuk mengikuti perubahan yang ada, sementara kata orang bijak justru guru yang paling sulit berubah, karena faktor usia yang merasa lebih tua dan lebih tahu.

Teknologi telah hadir di hadapan kita, bagaimana kita memanfaatkannya secara optimal untuk nenajukan dunia pendidikan (bukan pendudukan) yang kita dicintai bersama. Tentunya semua itu amat bergantung kepada dana dan sumber daya, dan penghargaan terhadap manusianya.